Filosofi Keris: Bukan Sekadar Pusaka, Ini Simbol Spiritualitas Nusantara

- 10 Juli 2024, 16:26 WIB
Filosofi Keris: Warisan Leluhur yang Menghubungkan Manusia dengan Sang Pencipta
Filosofi Keris: Warisan Leluhur yang Menghubungkan Manusia dengan Sang Pencipta //INsTAGRAM /

MALANGRAYA.CO - Dalam kekayaan budaya Nusantara, keris bukan sekadar senjata atau benda pusaka. Lebih dari itu, keris merupakan manifestasi dari filosofi yang mendalam, mengandung nilai-nilai spiritualitas yang menghubungkan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Buku "Wedharan Serat Dewa Ruci; Warangka Manjing Curiga", menguraikan tentang Serat Dewa Ruci yang menceritakan perjalanan spiritual Dewa Ruci sebagai representasi dari perjalanan manusia mencari Tuhan, untuk mencapai kesatuan dengan-Nya, sebuah konsep yang dalam budaya Jawa dikenal sebagai "manunggaling kawula Gusti".

Konsep "curiga manjing warangka, warangka manjing curiga" menggambarkan hubungan simbiosis antara manusia dan Tuhan, di mana manusia sebagai keris, dan Tuhan sebagai warangka (sarung keris).

Hubungan ini menggambarkan kesatuan yang tidak terpisahkan, di mana manusia senantiasa berada dalam lindungan dan bimbingan Tuhan, meskipun dalam keadaan berubah (dumadi), Tuhan tetap abadi dan tidak terpengaruh.

Baca Juga: Keunikan Pendok Keris Surakarta dan Yogyakarta dalam Tradisi Ragam Hias Jawa

Keris, dalam konteks kebudayaan Jawa dan Nusantara, lebih dari sekedar benda. Ia merupakan simbol dari identitas, harga diri, dan kehormatan. "Sirikane Wong Jawa iku aja kok godha bojone, aja kok ladaki anake, lan aja kok cacat kerise," ungkap Mpu Basuki, menggambarkan betapa pentingnya keris dalam kehidupan masyarakat Jawa, setara dengan keluarga dan kehormatan diri.

Dari segi estetika, keris mengandung keindahan baik secara lahir (tangible) maupun batin (intangible). Keindahan lahir keris tercermin dari desain, motif, dan bahan yang digunakan, sedangkan keindahan batinnya merujuk pada nilai-nilai dan makna spiritual yang terkandung di dalamnya. Keris dipercaya memiliki kekuatan magis, yang meliputi aspek protektif, produktif, dan profetik.

Masyarakat Jawa percaya bahwa manusia dan Tuhan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. "Manunggaling kawula Gusti" bukan hanya konsep filosofis, tapi juga praktik spiritual yang diwujudkan dalam bentuk keris. Keris menjadi simbol dari keinginan, harapan, dan identitas pemiliknya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Thomas Stamford Raffles, dalam "The History of Java", menyatakan bahwa laki-laki Jawa tanpa keris ibarat telanjang, menggambarkan betapa pentingnya keris dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan serupa juga terdapat di masyarakat Minangkabau, Palembang, dan Bali, di mana keris merupakan bagian tak terpisahkan dari busana adat, simbol status, dan identitas diri.

Halaman:

Editor: Yudhista AP


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Berita Pilgub