Investor Berpaling dari Rupiah ke Rupee: Analisis Dampaknya pada Ekonomi Indonesia!

- 9 Juli 2024, 12:12 WIB
Penurunan Rupiah dan Kenaikan Yield Obligasi Indonesia: Analisis Mendalam
Penurunan Rupiah dan Kenaikan Yield Obligasi Indonesia: Analisis Mendalam /antara/


MALANGRAYA.CO - Di tengah ketidakpastian global, pasar keuangan Indonesia mengalami gejolak signifikan. Yield obligasi meningkat, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami depresiasi. Menurut Jenny Zeng, kepala investasi fixed income APAC di Allianz, kondisi ini sebagian besar disebabkan oleh ketahanan dolar AS.

"Kami melihat ini lebih sebagai kebisingan sementara, namun risiko fiskal meningkat dan pasar mungkin mulai membutuhkan premi risiko yang lebih tinggi pada obligasi pemerintah Indonesia," ujar Zeng.

Zeng juga menyoroti perubahan menteri sebagai faktor risiko tambahan, mengingat ketidakpastian tentang siapa yang akan menggantikan Sri Mulyani, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia yang sangat dihormati.

Hal ini menambah ketidakpastian dalam pemerintahan yang baru saja melalui pergantian kepemimpinan dengan terpilihnya Prabowo Subianto sebagai presiden pada Februari, yang baru akan menjabat pada Oktober.

Baca Juga: Program Makan Siang Gratis: Janji Prabowo dan Dilema Ekonomi Indonesia

Seorang bankir dari lembaga pembiayaan Cina di Indonesia menyatakan bahwa kekhawatiran fiskal telah mendorong mereka untuk memindahkan sekitar 30% portofolio mereka ke instrumen tenor lebih rendah, termasuk diversifikasi ke dalam surat berharga berdenominasi rupiah jangka pendek (SRBI) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Di bawah administrasi Jokowi, keuangan negara terbesar di Asia Tenggara ini telah membaik, mencatat surplus anggaran yang sehat. Dari penilaian junk di awal abad ini, obligasi Indonesia kini dianggap sebagai investasi grade.

Namun, kenaikan target pertumbuhan ekonomi menjadi 8% menimbulkan kekhawatiran baru mengenai seberapa banyak Prabowo berencana menghabiskan dana untuk programnya dan apakah ia akan memotong subsidi bahan bakar dan investasi lainnya untuk menyeimbangkan anggaran.

"Ini tampaknya akan membawa lebih banyak ketidakpastian daripada kepastian. Saya masih tetap berinvestasi tetapi mungkin tidak seagresif sebelumnya," kata Clifford Lau, manajer portofolio di William Blair.

Baca Juga: APBN 2025 Tak Goyah, Sri Mulyani Berpikir Keras Mewujudkan Makan Siang Gratis untuk 78,5 Juta Pelajar!

Halaman:

Editor: Yudhista AP

Sumber: Livemint


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Berita Pilgub