Idul Adha di Gaza: Perayaan yang Tenggelam dalam Duka dan Reruntuhan

- 18 Juni 2024, 01:45 WIB
Ratusan warga Gaza melaksanakan salat Idul Adha di tengah reruntuhan rumah dan bangunan yang hancur, mencerminkan suasana muram akibat agresi Israel yang terus berlanjut, Minggu 16 Juni 2024.
Ratusan warga Gaza melaksanakan salat Idul Adha di tengah reruntuhan rumah dan bangunan yang hancur, mencerminkan suasana muram akibat agresi Israel yang terus berlanjut, Minggu 16 Juni 2024. /Foto/WAFA


MALANGRAYA.CO - Suasana Idul Adha tahun ini jauh dari kesan meriah yang biasanya dirasakan oleh umat Muslim di seluruh dunia, terutama bagi penduduk Gaza yang tengah mengalami kesulitan akibat serangan militer Israel yang berkepanjangan. Hari raya yang seharusnya menjadi momen berkumpul dan berbagi kebahagiaan, kini hanya menyisakan duka dan penderitaan.

Malakiya Salman, seorang perempuan berusia 57 tahun yang terpaksa mengungsi dan kini tinggal di sebuah tenda di Kota Khan Younis, Gaza selatan, mengungkapkan kesedihannya. "Tidak ada kegembiraan. Kami telah dirampas dari kebahagiaan itu," kata Malakiya dengan nada lirih.

Tradisi menyembelih kambing atau domba sebagai bentuk pengorbanan dan kemudian membagikan dagingnya kepada yang membutuhkan, yang merupakan inti dari perayaan Idul Adha, terpaksa ditiadakan. Hal ini disebabkan oleh kondisi ekonomi yang sangat sulit akibat serangan yang telah menghancurkan banyak infrastruktur dan meningkatkan harga bahan makanan hingga empat atau lima kali lipat.

Baca Juga: Slovenia Serukan Parlemen untuk Pengakuan Palestina, Mengikuti Jejak Spanyol dan Norwegia!

Selain kehilangan tempat tinggal dan kesulitan ekonomi, penduduk Gaza juga menghadapi krisis kemanusiaan yang mendalam. Lebih dari delapan bulan serangan Israel telah mengakibatkan sebagian besar dari 2,4 juta penduduk Gaza terpaksa mengungsi, dan peringatan akan terjadinya kelaparan terus berulang.

Salman, yang keluarganya terusir dari Kota Rafah di ujung selatan Gaza, sebuah kawasan yang baru-baru ini menjadi pusat pertempuran, menyampaikan harapannya kepada dunia. "Saya berharap dunia akan memberi tekanan untuk mengakhiri perang ini, karena kami benar-benar sedang sekarat, dan anak-anak kami hancur," ujar Salman dengan mata berkaca-kaca.

Pada pagi hari raya Idul Adha, banyak warga yang berkumpul untuk shalat di halaman Masjid Omari yang bersejarah di Kota Gaza, meskipun masjid tersebut mengalami kerusakan parah akibat bombardir. Mereka menaruh sajadah mereka yang sudah usang di samping tumpukan puing-puing.

Baca Juga: Perintah Mendesak ICJ: Israel Diperintahkan untuk Menghentikan Aksi Militer!

Suara doa menggema di sepanjang jalan-jalan Kota Gaza yang hancur dan sepi. Di beberapa area yang terdampak perang, terutama di Kota Gaza, anak-anak muda terlihat menjaga toko-toko kecil di pinggir jalan yang menjual parfum, losion, dan barang-barang lainnya dengan latar belakang reruntuhan bangunan dan rumah yang hancur.

Para pedagang menggunakan payung untuk melindungi diri dari terik matahari yang membakar saat mereka berusaha menjual barang-barang rumah tangga di jalan pasar utama Kota Gaza. Namun, pembeli sangat sedikit.

Halaman:

Editor: Yudhista AP

Sumber: TRT World


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Berita Pilgub