Mengungkap Masa Depan Jakarta Pasca Pemindahan Ibu Kota ke Nusantara

- 10 Juli 2024, 01:27 WIB
Jakarta: Menatap Masa Depan Pasca Pemindahan Ibu Kota ke Nusantara
Jakarta: Menatap Masa Depan Pasca Pemindahan Ibu Kota ke Nusantara /ilustrasi/


MALANGRAYA.CO - Dalam hitungan enam minggu lagi, tepatnya pada 17 Agustus, Indonesia akan merayakan Hari Kemerdekaannya. Bersamaan dengan itu, Nusantara, sebuah kota modern yang sedang dibangun di pantai timur Kalimantan, akan mulai beroperasi, secara resmi menggantikan Jakarta yang padat dan tercemar sebagai ibu kota baru negara ini.

Proyek ambisius senilai US$32 miliar ini menarik perhatian banyak pihak, sementara Jakarta, kota yang tenggelam dengan kecepatan mengkhawatirkan ke dalam Laut Jawa, berupaya keras untuk mempertahankan statusnya sebagai pusat ekonomi dan komersial yang menarik bagi investor dan bisnis selama beberapa dekade mendatang.

Pada bulan Maret tahun ini, parlemen Indonesia menetapkan "status khusus" untuk Jakarta, yang mempertahankan metropolis luas ini sebagai pusat ekonomi negara.

Di tengah persiapan pemindahan ibu kota, muncul kekhawatiran di kalangan masyarakat, khususnya mengenai nasib Jakarta pasca tidak lagi menjadi ibu kota. Apakah daerah ini masih akan memiliki daya tarik seperti kota-kota besar lainnya?

Baca Juga: Transformasi Jakarta Pasca IKN: Gibran Bakal Duduki Kursi Kekuasaan Di Jakarta?

M. Ridwan Kamil, Kurator IKN sekaligus Gubernur Jawa Barat periode 2018—2023 yang kini lebih dikenal dengan sapaan RK, menegaskan bahwa dalam waktu dekat, Jakarta masih tidak akan terlalu terpengaruh oleh pemindahan ibu kota dari sisi aktivitasnya.

"Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa perubahan itu bisa memakan waktu puluhan tahun, bahkan ada yang mencapai 100 tahun seperti Washington DC, Amerika Serikat," ujar RK. "Apalagi, mengingat IKN ini belum memiliki penduduk, jadi dipastikan tidak akan terlalu berdampak pada aktivitas di Jakarta."

Menurut RK, tantangan utama Jakarta dalam 5 tahun ke depan adalah penanganan perubahan iklim. Hal ini menjadi krusial mengingat dampak perubahan iklim telah nyata terasa, terutama menurunnya kualitas udara yang berkontribusi pada hampir 60 persen penyakit di Jakarta, terutama infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang disebabkan oleh polusi udara.

Selain itu, RK menekankan pentingnya meningkatkan livability atau kelayakan hidup di Jakarta. "Ketika ada orang yang mau berjalan kaki di sebuah kota, itu menunjukkan kelayakan hidup di kota tersebut terpenuhi," jelas RK. Saat ini, Jakarta masih belum bisa dikatakan sebagai kota yang layak dari sisi livability karena kebanyakan orang berjalan kaki di sini masih terpaksa.

Baca Juga: Bongkar! Moeldoko Ungkap Fakta Sebenarnya Dana Tapera untuk IKN

Halaman:

Editor: Yudhista AP

Sumber: Antara


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Berita Pilgub