Peningkatan Insiden Bullying Memicu Pilihan Homeschooling di Malang sebagai Solusi Pendidikan

- 14 Juni 2024, 11:42 WIB
Nur Ulfi Lutfiyah, M.Psi., Psikolog - Kepala Homeschooling Center di Mayantara School
Nur Ulfi Lutfiyah, M.Psi., Psikolog - Kepala Homeschooling Center di Mayantara School /YAP/MR


MALANGRAYA.CO – Di tengah meningkatnya angka kejadian perundungan di sekolah-sekolah, banyak orang tua kini memilih homeschooling sebagai alternatif untuk melindungi kesehatan mental dan mendukung perkembangan anak-anak mereka.

Data terbaru SCS menunjukkan bahwa 22% anak berusia 12-18 tahun melaporkan telah mengalami perundungan selama tahun-tahun sekolah mereka. Mengkonfirmasi data itu, laporan UNICEF, pada 2018 sekitar 41% pelajar Indonesia berusia 15 tahun pernah mengalami bullying, sebanyak 22% mengalami bullying berupa ejekan dari murid lain.

Perundungan atau bullying telah menjadi fenomena yang sering terjadi dan memicu kekhawatiran di kalangan orang tua serta pengambil kebijakan pendidikan.

Gejala umum yang menunjukkan seorang anak mengalami perundungan di sekolah antara lain seringnya mereka mencari alasan untuk tidak masuk sekolah, mengeluh sakit kepala atau sakit perut tanpa alasan medis yang jelas, mengalami kesulitan tidur dan mimpi buruk, kehilangan minat bermain atau bergaul dengan teman-teman, penurunan nilai akademis, berkurangnya nafsu makan, dan sering merasa jengkel.

Baca Juga: Lima Pelajar Terancam Hukuman Berat..! Kasus Bullying Berujung Maut di Kota Batu

"Dampak perundungan terhadap anak tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga jangka panjang", tutur Nur Ulfi Lutfiyah, M.Psi., Psikolog - Kepala Homeschooling Center di Mayantara School.

Sekitar satu dari sepuluh anak memutuskan untuk berhenti sekolah karena perundungan. Dampak mental dari perundungan membuat anak kesulitan menyerap informasi, yang berujung pada penurunan performa akademis. Lebih lanjut, perundungan dapat mengganggu kemampuan anak untuk mempercayai orang lain, yang kemudian berpotensi menyebabkan masalah kepercayaan dalam hubungan interpersonal di kemudian hari. Tak jarang, perundungan berujung pada depresi.

Survei yang dilakukan di USA mengungkapkan bahwa 65% siswa yang mengalami perundungan merasa kepercayaan diri mereka rusak, 36% mengalami kesulitan menjalin pertemanan baru, 27% menyatakan bahwa kejadian tersebut berdampak pada kesehatan mental mereka, dan 16% merasa sulit mempercayai orang dewasa yang berwibawa. Ada juga beberapa anak yang tidak dapat atau tidak mau berbicara tentang insiden perundungan yang mereka hadapi.

Meskipun telah dilaporkan, sering kali sekolah gagal mengambil langkah efektif dalam mengatasi perundungan. Tindakan terhadap pelaku perundungan seringkali tidak menghentikan perundungan itu sendiri, malah membuat pelaku menjadi lebih hati-hati dalam melakukan aksinya. Untuk menyelamatkan anak dari lingkungan yang tidak kondusif ini, banyak orang tua kini beralih ke opsi homeschooling online maupun mandiri, dan berhasil melindungi anak-anak mereka dari perundungan yang semakin merajalela.

Baca Juga: Kasus Bullying Libatkan Anak Vincent Rompies, KPAI Sebut Binus School Tidak Kooperatif

Selain mencegah perundungan, homeschooling juga menawarkan berbagai manfaat lain, seperti rasio guru-siswa satu banding satu, fokus pada pembelajaran daripada pengejaran nilai, ikatan kuat antara orang tua dan anak, serta membentuk anak menjadi individu yang lebih mandiri.

Langkah pertama yang harus dilakukan orang tua adalah membawa anak kembali ke rumah dan memulai homeschooling. Keberhasilan homeschooling dalam membantu anak yang pulih dari perundungan terletak pada fakta bahwa orang tua menjadi pengaruh utama dalam kehidupan anak.

Berikut adalah beberapa kunci untuk menumbuhkan kepercayaan diri pada anak yang pulih dari perundungan:

  1. Jadikan rumah sebagai tempat yang aman, di mana kata-kata penyemangat diberikan setiap hari untuk meningkatkan kepercayaan diri anak. Hindari kritik serta kata-kata dan pikiran negatif, dan hadirkan kebahagiaan serta rasa lega.
  2. Bangun ikatan keluarga yang kuat; hal ini akan memberikan anak rasa memiliki. Hubungan erat dengan orang tua dan saudara kandung akan membuat pendapat teman sebaya menjadi kurang signifikan, sehingga anak tidak akan menilai harga dirinya berdasarkan persetujuan teman sebaya.
  3. Selalu dorong anak untuk belajar hal baru dan berikan umpan balik positif atas usaha mereka, hal ini akan berperan besar dalam meningkatkan kepercayaan diri anak.

Oleh karena itu, membuat keputusan bijak untuk homeschooling dapat menjadi langkah penting bagi orang tua dalam membangun kepercayaan diri anak mereka dan melindungi mereka dari teror perundungan. Orang tua dapat membangun kepercayaan diri anak mereka secara bertahap, dengan cara mereka sendiri, sesuai dengan ritme mereka sendiri, dan dalam ruang mereka sendiri.

Halaman:

Editor: Yudhista AP


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Berita Pilgub